Home/Vibecoding & Debut Pertama Sharing

Vibecoding & Debut Pertama Sharing

3 min read
vibecodingproduct designcareerAI

Alhamdulillah, tadi malam saya mendapatkan kesempatan debut pertama kali sharing secara eksternal sepanjang karier saya. Momen ini menjadi sangat berarti karena akhirnya saya bisa melawan jiwa impostor yang sudah menghantui bertahun-tahun.

Perubahan Cara Kerja: Era Vibecoding

Singkat cerita, sejak akhir tahun 2025, saya mulai melakukan perubahan besar dalam cara saya bekerja sebagai seorang Product Designer. Di tengah pesatnya perkembangan AI dan maraknya istilah vibecoding, saya merasa tertantang untuk beradaptasi.

Biasanya, flow kerja saya sebagai designer cukup standar:

  1. Membuat desain di Figma.
  2. Membuat prototype di Figma setelah desain selesai.
  3. Melakukan Usability Testing (UT) ke target user menggunakan prototype tersebut.

Namun sejak akhir 2025, flow tersebut bergeser. Saya mulai mencoba melakukan UT langsung dengan aplikasi yang sudah saya build sendiri melalui teknik vibecoding. Pengalaman ini ternyata sangat adiktif. Kini, selain Figma, tool yang paling sering saya buka adalah AI code editor.

Perjalanan ini membawa saya lebih dalam ke dunia eksplorasi, baik untuk pekerjaan di kantor maupun personal project seperti takeanoteapp.com.

Keluar dari Zona Nyaman: Debut Sharing

Kejutan datang ketika Mas Pahlevi Fikri Auliya mengajak saya untuk mengisi kelas di Ruangguru Engineering Academy.

Awalnya saya sempat ragu. "Kenapa saya yang diajak?" pikir saya. Background saya murni designer—saya bahkan tidak bisa menjalankan perintah terminal atau melakukan push repository ke GitHub secara mandiri. Namun, bermodalkan ilmu praktik dari hasil vibecoding dan beberapa aplikasi yang sudah berhasil saya buat, saya memutuskan untuk menerima ajakan tersebut.

Ekspektasi saya awalnya hanya ada sekitar 10 partisipan. Begitu masuk ke Google Meet, ternyata yang hadir mencapai lebih dari 50 orang! Bismillah, debut sharing session pun dimulai.

Saya mencoba menyampaikan materi vibecoding melalui sudut pandang cerita pengalaman, karena saya tahu mayoritas peserta adalah engineer "beneran". Saya bercerita tentang alasan saya mulai, memamerkan hasil karya, hingga melakukan demo langsung membuat aplikasi sederhana sampai di-deploy.

Relevansi "Tahun 2000" dan Optimisme

Di tengah geliat AI dan kekhawatiran akan tergantikan (yang mungkin kita semua rasakan), saya teringat sebuah lagu dari grup qasidah modern asal Semarang, Nasida Ria. Lagu berjudul "Tahun 2000" yang saya dengarkan saat masih TK (sekitar tahun 1999) ini ternyata sangat visioner.

Liriknya menggambarkan keresahan manusia kala itu:

"Tahun 2000 kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin, manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin." "Tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela."

Lagu yang ditulis tahun 80-an ini masih terasa sangat relevan 26 tahun kemudian. Namun, keindahan lagu tersebut terletak pada pesan penutupnya:

"Wahai pemuda dan para remaja, sambutlah tahun 2000 penuh semangat dengan bekal keterampilan serta ilmu dan iman."

Pada akhirnya, tugas kita adalah terus belajar, beramal, dan tetap optimis. Itulah hal-hal yang berada di bawah kontrol kita. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, atau bahkan apakah hari esok kita masih menjadi penduduk bumi. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan yang terbaik hari ini.


Terima kasih kepada Ruangguru Engineering Academy atas kesempatannya. Teruslah bereksplorasi!